Penerapan Agrosilvofishery di Desa Kesetnana Kabupaten Timor Tengah Selatan
Kondisi iklim kering yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya di Desa Kesetnana, Kabupaten Timor Tengah Selatan, telah lama menjadi tantangan utama masyarakat dalam memperoleh akses air bersih. Wilayah ini berada dalam pengaruh kuat pola iklim Australia, yang menyebabkan minimnya curah hujan dan terbatasnya sumber daya air. Tidak hanya menghadapi krisis air, masyarakat desa juga terbiasa dengan praktik pembukaan lahan menggunakan sistem tebas bakar serta pengolahan lahan yang kurang produktif. Menyikapi kondisi tersebut, Jurusan Kehutanan dan Jurusan Perikanan & Kelautan Politeknik Pertanian Negeri Kupang menginisiasi sebuah kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang menyasar langsung Kelompok Tani Bersaudara di desa tersebut.
Kegiatan pengabdian yang berlangsung sejak Juni 2023 ini membawa beberapa misi besar, diantaranya meningkatkan debit mata air melalui konservasi lahan kritis, memperbaiki ekonomi masyarakat melalui model agroforestri dan budidaya ikan air tawar, serta membangun ketahanan sosial dan lingkungan secara menyeluruh.
Kegiatan ini didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi melalui Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Adapun program ini melibatkan berbagai aktivitas strategis, seperti Penyuluhan Konservasi Lahan Tangkapan Air, Budidaya Ikan Lele, Instalasi Pipa Sepanjang 250 meter, Penanaman Tanaman Buah Bernilai Ekonomis termasuk jeruk, jambu kristal, sirsak, dan mangga yang tidak hanya memberikan ketahanan pangan tetapi juga potensi pasar serta reboisasi dan Penghijauan.
Dalam waktu enam bulan, masyarakat telah memanen hasil pertanian hortikultura sebanyak empat kali. Lahan-lahan yang sebelumnya terbengkalai kini menjadi sumber kehidupan baru, baik secara ekologis maupun ekonomis. Lebih dari sekadar kegiatan akademik, program ini mencerminkan semangat Tri Dharma Perguruan Tinggi yang diwujudkan oleh Politeknik Pertanian Negeri Kupang secara konkret dan berkelanjutan.
Program ini menegaskan bahwa perubahan iklim global harus dijawab dengan solusi lokal yang berbasis pada ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan pemberdayaan. Di tengah keterbatasan, hadir semangat membangun yang tumbuh dari desa—untuk hutan yang lestari, perikanan yang produktif, dan masyarakat yang sejahtera.
