• Slide29.JPG
  • IMG-20251205-WA0034.jpg
  • Slide13.JPG
  • Slide1.JPG
  • Slide22.JPG
  • Slide42.JPG
  • Slide15.JPG
  • Slide47.JPG
  • Slide14.JPG
  • Slide36.JPG
  • Slide27.JPG
  • Slide55.JPG
  • Slide53.JPG
  • Slide17.JPG
  • Slide38.JPG
  • Slide25.JPG
  • Slide52.JPG
  • Slide33.JPG
  • Slide19.JPG
  • Slide6.JPG
  • Slide46.JPG
  • Slide39.JPG
  • Slide21.JPG
  • Slide45.JPG
  • Slide35.JPG
  • Slide41.JPG
  • Slide23.JPG
  • Slide2.JPG
  • Slide50.JPG
  • Slide30.JPG
  • Slide10.JPG
  • Slide40.JPG
  • Slide56.JPG
  • Slide44.JPG
  • Slide28.JPG
  • Slide12.JPG
  • IMG-20251205-WA0032.jpg
  • Slide5.JPG
  • Slide4.JPG
  • Slide49.JPG
  • Slide3.JPG
  • Slide37.JPG
  • Slide43.JPG
  • Slide32.JPG
  • Slide48.JPG
  • Slide8.JPG
  • Slide26.JPG
  • Slide54.JPG
  • Slide16.JPG
  • Slide18.JPG
  • Slide9.JPG
  • Slide7.JPG
  • Slide24.JPG
  • Slide34.JPG
  • Slide11.JPG
  • Slide31.JPG
  • Slide20.JPG
  • Slide51.JPG

Jurusan Kehutanan Politani Kupang dan Blue Forests Resmi Jalin Kerja Sama Pengelolaan Mangrove Berkelanjutan di NTT

WhatsApp_Image_2026-06-03_at_6.30.52_AM.jpeg

Gambar 1. Foto bersama Kehutanan dan Blue Forest                                

 WhatsApp_Image_2026-06-03_at_6.30.53_AM.jpegGambar 2. Sesi Pembukaan acara oleh Ketua Jurusan Kehutanan

 

WhatsApp_Image_2026-06-03_at_6.30.53_AM_1.jpeg

  Gambar 3. Sesi Pemaparan Materi dari Blue Forest

Kupang, 2 Juni 2026 – Jurusan Kehutanan Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang) resmi menjalin kerja sama strategis dengan Blue Forests melalui penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan pada Selasa, 3 Juni 2026. Kerja sama ini menjadi langkah penting dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan tinggi vokasi dan lembaga konservasi lingkungan dalam mendukung pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penandatanganan MoU tersebut dilatarbelakangi oleh komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pendidikan, penelitian terapan, serta pengabdian kepada masyarakat di bidang kehutanan pesisir dan restorasi mangrove. Melalui kerja sama ini, mahasiswa dan dosen Jurusan Kehutanan Politani Kupang akan memperoleh kesempatan lebih luas untuk terlibat dalam berbagai program konservasi, rehabilitasi, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat pesisir.

Blue Forests merupakan organisasi nirlaba yang telah berpengalaman lebih dari dua dekade dalam pengelolaan dan restorasi mangrove di Indonesia. Sejak berdiri pada tahun 2001, organisasi ini telah melakukan berbagai program pengelolaan mangrove di 11 provinsi, mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua. Hingga tahun 2026, Blue Forests telah berhasil merehabilitasi lebih dari 2.601 hektare mangrove, melibatkan lebih dari 80 desa, serta memberikan manfaat kepada lebih dari 75.000 masyarakat lokal.

Dalam pemaparannya, tim Blue Forests menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan tidak hanya berfokus pada penanaman mangrove, tetapi juga mencakup Ecological Mangrove Restoration (EMR), perbaikan hidrologi kawasan pesisir, penguatan tata kelola mangrove, pendidikan lingkungan, pengembangan mata pencaharian berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas masyarakat melalui program Sekolah Lapangan Pesisir (Coastal Field School).

Menariknya, setelah berhasil mengembangkan berbagai program di sejumlah wilayah Indonesia, Blue Forests kini mulai memperluas fokus kegiatannya ke kawasan Nusa Tenggara Timur, termasuk Pulau Rote yang menjadi salah satu lokasi prioritas restorasi mangrove dan pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. Kehadiran Jurusan Kehutanan Politani Kupang sebagai mitra strategis diharapkan mampu memperkuat basis ilmiah dan pengembangan sumber daya manusia lokal dalam mendukung keberhasilan program tersebut.

Ketua Jurusan Kehutanan Politani Kupang menyampaikan bahwa kerja sama ini sejalan dengan visi jurusan dalam menghasilkan lulusan yang kompeten, adaptif, dan berwawasan lingkungan. Selain itu, kolaborasi ini juga menjadi implementasi nyata Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penguatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat berbasis kebutuhan daerah.

Melalui kerja sama ini, kedua pihak optimistis dapat menciptakan model pengelolaan mangrove yang tidak hanya menjaga kelestarian ekosistem pesisir, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Sinergi antara akademisi, praktisi, pemerintah, dan masyarakat diharapkan mampu menjadikan NTT sebagai salah satu contoh keberhasilan pengelolaan mangrove berbasis ilmu pengetahuan dan partisipasi masyarakat di Indonesia.

"Bersama menjaga mangrove hari ini, untuk masa depan pesisir yang lebih lestari dan sejahtera."
(RS)

More in Berita  

Login Form