Dosen Kehutanan Politani Kupang Jadi Narasumber Kampanye Pengelolaan Sumber Daya Air dan Ketahanan Iklim di Kota Kupang


Kupang, 28 September 2026 — Komitmen terhadap pengelolaan lingkungan dan penguatan ketahanan masyarakat menghadapi perubahan iklim terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak. Salah satunya melalui Program CERAH (Cerdas Kelola Air dan Lahan untuk Keberlanjutan) yang merupakan kerja sama Yayasan Plan International Indonesia dan PERSANI NTT.
Dalam rangkaian program tersebut, dilaksanakan kegiatan “Kampanye Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan dan Upaya Ketahanan Iklim di Kota Kupang” pada Senin, 28 September 2026, bertempat di Ruang Rapat Bapenda Kota Kupang. Kegiatan berlangsung pukul 10.00–12.30 WITA dan diikuti oleh 55 peserta yang terdiri atas perwakilan PKK dan Karang Taruna dari 14 kelurahan se-Kota Kupang.
Pada kegiatan ini, Bapak Mahardika Putra Purba, S.Hut., M.Si., Dosen Jurusan Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang), hadir sebagai narasumber. Materi yang disampaikan mengangkat tema “Youth and Women Climate Action: Dari Kesadaran Menjadi Aksi Nyata—Meningkatkan Keterlibatan Generasi Muda dan Perempuan dalam Konservasi Lingkungan untuk Mitigasi Perubahan Iklim.”
Dari Kesadaran Menuju Aksi Nyata
Dalam pemaparannya, Mahardika menekankan bahwa perubahan iklim bukan hanya persoalan global, tetapi juga memberikan dampak nyata pada kehidupan masyarakat di tingkat lokal. Gelombang panas, El Niño, perubahan pola hujan, banjir ekstrem, kekeringan, hingga kebakaran hutan dan lahan dapat berpengaruh terhadap ketersediaan air, ketahanan pangan, kesehatan, dan mata pencaharian masyarakat.
Konteks tersebut menjadi semakin relevan bagi Nusa Tenggara Timur yang memiliki karakter wilayah semi-arid dengan tekanan evaporasi yang tinggi, musim hujan yang relatif pendek, serta suhu dan radiasi matahari yang tinggi. Kondisi ini dapat menyebabkan tingginya kehilangan air melalui evaporasi, cepatnya pengeringan tanah, serta meningkatnya risiko kekeringan pertanian. “Perubahan iklim adalah tantangan global, tetapi solusinya dimulai dari aksi lokal,” menjadi salah satu pesan penting yang ditekankan dalam materi tersebut.
Perempuan dan Generasi Muda sebagai Penggerak Perubahan
Kegiatan ini juga memberikan perhatian khusus terhadap peran perempuan dan generasi muda dalam aksi lingkungan. Perempuan memiliki peran penting dalam pengelolaan penggunaan air, pola konsumsi rumah tangga, pendidikan keluarga, hingga penggerak kegiatan sosial di masyarakat. Sementara itu, generasi muda memiliki peluang besar menjadi agen perubahan, inovator solusi lingkungan, penggerak perubahan perilaku masyarakat, serta pengguna teknologi untuk aksi iklim.
Dengan melibatkan PKK dan Karang Taruna dari 14 kelurahan, kampanye ini diharapkan tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan, tetapi dapat mendorong munculnya aksi nyata berbasis komunitas di masing-masing wilayah.
Tiga Langkah Sederhana: Hemat Air, Biopori, dan Penghijauan
Mahardika memperkenalkan tiga pendekatan sederhana yang dapat dilakukan masyarakat dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, yaitu hemat air, biopori, serta penghijauan dan reboisasi. Dalam pengelolaan air, masyarakat didorong melakukan langkah sederhana seperti memperbaiki kebocoran kran, mengurangi durasi mandi, memanfaatkan kembali air bekas cucian untuk menyiram tanaman, serta membangun sistem penampungan air hujan. Di tingkat komunitas, aksi dapat dikembangkan melalui kampanye hemat air, audit penggunaan air, dan edukasi keluarga.
Sementara itu, biopori diperkenalkan sebagai teknologi sederhana untuk meningkatkan daya resap air sekaligus memanfaatkan sampah organik. Lubang biopori dapat membantu meningkatkan infiltrasi, mengurangi risiko genangan, menyimpan air hujan ke dalam tanah, menjaga kelembapan tanah pada musim kemarau, serta mendukung ketahanan air lokal. Tidak kalah penting, penghijauan tidak hanya dipahami sebagai kegiatan menanam pohon sebanyak-banyaknya. Pemilihan jenis pohon harus mempertimbangkan kondisi ekologis, kemampuan bertahan hidup, kebutuhan air, fungsi ekologis, nilai sosial ekonomi, serta keanekaragaman jenis. Prinsip “right tree, right place” menjadi penting agar kegiatan penghijauan memberikan manfaat yang berkelanjutan.
Kegiatan kampanye tidak hanya berlangsung dalam bentuk pemaparan materi, tetapi juga dilengkapi dengan diskusi kelompok. Peserta dibagi ke dalam tiga kelompok yang membahas hemat air, biopori, dan penghijauan. Masing-masing kelompok diarahkan untuk mengidentifikasi permasalahan di lingkungannya, merumuskan solusi yang sederhana dan dapat dilakukan, serta menentukan pihak-pihak yang perlu terlibat. Kelompok hemat air diarahkan menghasilkan Rencana Program Hemat Air Komunitas, kelompok biopori menghasilkan Peta Gerakan Biopori Komunitas, sedangkan kelompok penghijauan menyusun Rencana Penghijauan Komunitas Berbasis Ekosistem.
Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pelaku dan penggerak aksi lingkungan di wilayah masing-masing.
Keterlibatan dosen Jurusan Kehutanan Politani Kupang sebagai narasumber dalam kegiatan Program CERAH menjadi salah satu bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam memperkuat literasi lingkungan dan aksi iklim di tengah masyarakat. Dengan pengalaman dan keilmuan di bidang kehutanan, konservasi tanah dan air, serta pengelolaan lingkungan, dosen dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan akademik dengan kebutuhan praktis masyarakat.
Pada akhirnya, konservasi lingkungan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks. Menghemat setiap tetes air, mengembalikan fungsi tanah, membuat biopori, memilih pohon yang tepat, memberdayakan perempuan, dan mengaktifkan generasi muda merupakan langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan mulai dari lingkungan terdekat. Dari Kupang, aksi kecil hari ini diharapkan menjadi gerakan bersama untuk membangun masyarakat yang lebih sadar, tangguh, dan adaptif terhadap perubahan iklim.
(RS)
