• Slide9.JPG
  • IMG-20251205-WA0032.jpg
  • Slide52.JPG
  • Slide7.JPG
  • Slide14.JPG
  • Slide42.JPG
  • Slide23.JPG
  • Slide54.JPG
  • Slide50.JPG
  • Slide33.JPG
  • Slide45.JPG
  • Slide2.JPG
  • Slide35.JPG
  • Slide31.JPG
  • Slide49.JPG
  • Slide28.JPG
  • Slide39.JPG
  • Slide30.JPG
  • Slide3.JPG
  • Slide4.JPG
  • Slide1.JPG
  • Slide20.JPG
  • Slide12.JPG
  • Slide29.JPG
  • Slide10.JPG
  • Slide6.JPG
  • Slide26.JPG
  • Slide16.JPG
  • Slide17.JPG
  • Slide5.JPG
  • Slide56.JPG
  • Slide8.JPG
  • Slide51.JPG
  • Slide11.JPG
  • Slide15.JPG
  • Slide41.JPG
  • Slide34.JPG
  • Slide53.JPG
  • Slide46.JPG
  • Slide40.JPG
  • Slide47.JPG
  • Slide37.JPG
  • Slide19.JPG
  • Slide21.JPG
  • Slide36.JPG
  • Slide32.JPG
  • Slide48.JPG
  • Slide27.JPG
  • Slide44.JPG
  • Slide38.JPG
  • Slide55.JPG
  • Slide13.JPG
  • IMG-20251205-WA0034.jpg
  • Slide43.JPG
  • Slide25.JPG
  • Slide22.JPG
  • Slide18.JPG
  • Slide24.JPG

Dosen Kehutanan Politani Kupang Dorong Peran Aktif Penyandang Disabilitas dalam Konservasi Lingkungan dan Ketahanan Iklim di Kota Kupang

66.jpg

tr.jpg

 

KUPANG – Upaya menghadapi perubahan iklim membutuhkan keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas. Pesan inilah yang disampaikan oleh Mahardika Putra Purba, S.Hut., M.Si., dosen Jurusan Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang (Politani Kupang), saat menjadi narasumber dalam kegiatan Kampanye Pengelolaan Sumber Daya Air yang Berkelanjutan dan Upaya Ketahanan Iklim di Kota Kupang bagi Rekan-Rekan Penyandang Disabilitas, pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) Kota Kupang ini diikuti oleh 28 peserta yang mewakili tujuh organisasi dan komunitas penyandang disabilitas di Nusa Tenggara Timur (NTT). Organisasi tersebut meliputi Komunitas Tuli Kupang, Permata NTT, Pertuni NTT, Persani NTT, Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia, Perhimpunan Jiwa Sehat Kota Kupang, serta Garamin NTT. Setiap organisasi mengirimkan empat perwakilan untuk mengikuti kegiatan edukasi dan diskusi.

Dalam pemaparannya, Mahardika menekankan bahwa perubahan iklim berdampak kepada semua orang sehingga solusi iklim juga harus datang dari semua orang. Penyandang disabilitas tidak seharusnya hanya dipandang sebagai kelompok yang perlu dilindungi, tetapi juga sebagai mitra penting yang memiliki potensi untuk berkontribusi dalam membangun lingkungan yang lebih hijau, tangguh, dan inklusif.

“Penyandang disabilitas bukan hanya penerima bantuan dalam menghadapi perubahan iklim, tetapi juga dapat menjadi penggerak konservasi, pendidik lingkungan, pengawas perubahan lingkungan, serta mitra pemerintah dalam aksi iklim,” menjadi pesan utama dalam materi yang disampaikan.

Mengubah Tantangan Iklim Menjadi Aksi Nyata

Materi edukasi berfokus pada pentingnya konservasi lingkungan dan pengelolaan sumber daya air berkelanjutan, khususnya dalam menghadapi tantangan iklim di Kota Kupang yang memiliki kondisi lingkungan relatif kering. Perubahan pola hujan, ancaman kekeringan, penurunan cadangan air tanah, dan meningkatnya kebutuhan air menjadi tantangan yang memerlukan partisipasi bersama.

Mahardika mengajak peserta mengenali berbagai tindakan sederhana yang dapat dilakukan mulai dari lingkungan rumah hingga komunitas. Beberapa aksi yang diperkenalkan meliputi penghematan air, pemanfaatan air bekas cucian untuk menyiram tanaman, penampungan air hujan, pembuatan lubang resapan biopori, serta penghijauan dan reboisasi.

Peserta juga memperoleh pemahaman mengenai pentingnya memilih jenis pohon yang sesuai dengan kondisi ekologis setempat. Keberhasilan penghijauan, menurut materi yang disampaikan, tidak hanya diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan pohon bertahan hidup, kesesuaian dengan kondisi lingkungan, dan manfaat ekologisnya.

Dalam konteks NTT yang relatif kering, kegiatan penghijauan perlu mempertimbangkan kebutuhan air tanaman, sistem perakaran, fungsi ekologis, serta keanekaragaman jenis pohon. Dengan demikian, upaya konservasi dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi lingkungan dan masyarakat.

Penyandang Disabilitas sebagai Penggerak Aksi Iklim Inklusif

Salah satu pesan penting dalam kegiatan ini adalah bahwa konservasi lingkungan bukan semata-mata pekerjaan fisik. Penyandang disabilitas dapat mengambil bagian dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari memilih jenis tanaman, pembibitan, kampanye lingkungan, hingga pemantauan pertumbuhan pohon.

Untuk mewujudkan partisipasi yang bermakna, program lingkungan perlu menerapkan prinsip aksesibilitas, pelibatan dalam pengambilan keputusan, pemberdayaan, dan keberlanjutan. Informasi tentang perubahan iklim dan risiko bencana juga perlu disampaikan dalam format yang dapat diakses oleh semua orang.

Pendekatan ini menegaskan bahwa keterbatasan akses dan fasilitas tidak boleh menjadi penghalang bagi penyandang disabilitas untuk berkontribusi dalam perlindungan lingkungan. Sebaliknya, mereka perlu diberikan ruang untuk menyampaikan gagasan, mengambil peran kepemimpinan, serta terlibat sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan program.

Membangun Komitmen Bersama untuk Kota Kupang yang Lebih Tangguh

Selain penyampaian materi, kegiatan ini mendorong peserta merefleksikan kontribusi yang dapat mereka lakukan, dukungan yang dibutuhkan agar dapat berpartisipasi, serta pihak-pihak yang dapat diajak bekerja sama. Diskusi kelompok juga diarahkan pada tiga tema utama, yaitu penghematan air, gerakan biopori inklusif, dan penghijauan yang melibatkan komunitas penyandang disabilitas.

Melalui pendekatan partisipatif tersebut, peserta diajak melihat bahwa aksi iklim dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten dan bersama-sama. Komunitas penyandang disabilitas memiliki peluang untuk menjadi penggerak edukasi lingkungan di tingkat keluarga maupun masyarakat.

Keterlibatan dosen Jurusan Kehutanan Politani Kupang dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam menyebarluaskan pengetahuan dan mendorong penerapan konservasi lingkungan yang relevan dengan tantangan wilayah NTT. Sinergi antara akademisi, organisasi penyandang disabilitas, masyarakat, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat memperkuat upaya pengelolaan sumber daya air dan ketahanan iklim yang lebih inklusif.

Sebagaimana ditekankan dalam materi kegiatan, tidak ada seorang pun yang boleh tertinggal dalam menghadapi perubahan iklim. Ketika penyandang disabilitas memperoleh akses, kesempatan, dan ruang untuk berpartisipasi secara setara, upaya konservasi lingkungan akan memiliki landasan yang lebih kuat untuk membangun Kota Kupang yang hijau, tangguh, dan berkelanjutan.
(RS)

More in Berita  

Login Form