Merajut Harmoni Alam dan Ekonomi Lokal: Kemitraan Jurusan Kehutanan dan Kelompok Wanita Tani Cinta Kasih di Desa Mata Air
Sebagai bagian dari perwujudan Tri Dharma Perguruan Tinggi, Jurusan Kehutanan Politeknik Pertanian Negeri Kupang terus memperkuat perannya dalam membangun kemitraan yang inklusif dengan masyarakat. Salah satu bentuk nyata komitmen tersebut ditunjukkan melalui pelaksanaan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang bertajuk “PKM Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Cinta Kasih, Desa Mata Air, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang”. Program ini secara resmi dimulai pada hari Selasa, 16 Juli 2025, ditandai dengan kegiatan sosialisasi yang berlangsung di tengah antusiasme Masyarakat khususnya kaum ibu dan mitra kegiatan.
Desa Mata Air, yang berada di wilayah Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, dipilih sebagai lokasi utama kegiatan bukan tanpa alasan. Wilayah ini memiliki potensi ekologis dan sosial yang sangat penting, terutama karena keberadaan sumber mata air yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat setempat. Selain itu, potensi keanekaragaman hayati serta semangat kolektif warga, khususnya para perempuan yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Cinta Kasih, menjadi modal sosial yang kuat untuk dikembangkan bersama.
Acara pembukaan kegiatan PKM ini diawali dengan sambutan hangat dari Ketua Jurusan Kehutanan, Meylin R. Pathibang, S.Hut., MP. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa hormat dan terima kasih atas dukungan serta keterbukaan masyarakat Desa Mata Air yang telah menerima kehadiran tim dari Jurusan Kehutanan dengan tangan terbuka. Ia juga menekankan pentingnya kemitraan antara institusi pendidikan tinggi dengan komunitas lokal sebagai salah satu kunci sukses dalam membangun desa yang berkelanjutan. Menurutnya, kerja sama ini bukan hanya soal transfer ilmu dari kampus ke masyarakat, tetapi juga sebagai ajang pembelajaran timbal balik di mana para akademisi dapat menyerap kearifan lokal sekaligus memperkuat praktik ilmiah yang kontekstual.
Program PKM ini disusun secara sistematis dengan tiga komponen utama, yakni: (1) pelatihan pembibitan tanaman hutan, (2) konservasi kawasan mata air, dan (3) pengembangan agroekowisata berbasis potensi lokal. Ketiga program tersebut dirancang dengan pendekatan partisipatif dan edukatif, agar masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dari perubahan yang dikehendaki bersama.
Dalam sesi pertama kegiatan sosialisasi, Flora Evalina Ina Kleruk, S.Hut., M.Sc., selaku Ketua Tim PKM, membawakan materi terkait pentingnya menjaga dan mengelola daerah tangkapan air. Ia menjelaskan bahwa sumber mata air yang berada di desa merupakan elemen vital bagi kehidupan seluruh makhluk, termasuk manusia, flora, dan fauna di sekitarnya. Oleh karena itu, upaya pelestarian wilayah resapan air harus menjadi prioritas bersama, baik oleh masyarakat maupun lembaga-lembaga pendukung. Ia juga menyoroti berbagai tantangan yang dapat mengancam keberlanjutan mata air, seperti alih fungsi lahan, penebangan pohon secara tidak terkendali, serta menurunnya kesadaran lingkungan di tengah perubahan gaya hidup modern.
Sesi berikutnya diisi oleh Sukriati Andesti Lamanda, S.Hut., M.Hut., yang memberikan pelatihan teknis seputar pembibitan tanaman hutan, terutama jenis lokal unggulan seperti Cendana (Santalum album) dan Kenari (Canarium indicum). Menurutnya, kedua jenis ini tidak hanya memiliki nilai ekologis tinggi dalam mendukung pemulihan kawasan hutan, tetapi juga bernilai ekonomis yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Cendana misalnya, merupakan komoditas khas Nusa Tenggara Timur yang memiliki daya jual tinggi di pasar nasional maupun internasional. Dengan kemampuan masyarakat untuk membibitkan dan menanam jenis-jenis tanaman hutan tersebut, diharapkan kegiatan reforestasi tidak hanya menjadi slogan, tetapi terwujud secara nyata di lapangan.
Materi terakhir dibawakan oleh pakar kehutanan dan lingkungan hidup, Prof. Dr. Ir. Jeriels Matatula, S.Hut., M.Sc. Beliau mengulas potensi besar yang dimiliki Desa Mata Air dalam hal pengembangan agroekowisata, yakni perpaduan antara kegiatan pertanian yang ramah lingkungan dan destinasi wisata berbasis alam. Dalam paparannya, Prof. Jeriels menyampaikan bahwa agroekowisata bukan hanya soal menjadikan desa sebagai tempat wisata, melainkan menjadikan kegiatan pertanian dan konservasi sebagai atraksi edukatif yang bernilai tambah. Ia juga menekankan bahwa pengembangan wisata berbasis agroekologi harus dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan, dengan memperhatikan kapasitas daya dukung lingkungan serta partisipasi aktif masyarakat lokal, terutama perempuan sebagai penggerak utama dalam rumah tangga dan komunitas.
Kegiatan diakhiri dengan sesi dokumentasi, di mana para anggota tim pengabdian dari Jurusan Kehutanan bersama-sama dengan Kelompok Wanita Tani Cinta Kasih berfoto bersama. Momen ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol komitmen bersama dalam menjalin kolaborasi jangka panjang yang berorientasi pada perlindungan lingkungan dan penguatan ekonomi desa. Dalam suasana yang penuh keakraban, para peserta kegiatan berbagi harapan agar kegiatan ini dapat berlanjut dalam berbagai bentuk pendampingan dan pelatihan lanjutan, termasuk penguatan kelembagaan KWT, pengelolaan hasil pertanian bernilai tambah, serta promosi potensi wisata lokal melalui media digital.
Secara keseluruhan, program PKM ini menunjukkan pendekatan yang komprehensif dalam pemberdayaan masyarakat pedesaan, di mana pelestarian lingkungan tidak dipandang sebagai beban, melainkan sebagai peluang untuk meningkatkan kesejahteraan. Dengan memberdayakan perempuan tani sebagai aktor utama, Jurusan Kehutanan menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan hanya bisa tercapai jika seluruh elemen masyarakat dilibatkan secara setara dan aktif. Selain itu, program ini juga menjadi wadah pembelajaran bagi mahasiswa dan dosen untuk menerapkan ilmu dalam konteks nyata, serta membangun jejaring kolaborasi yang bermanfaat untuk jangka panjang.
Harapan ke depan, kerja sama ini dapat diperluas tidak hanya di bidang kehutanan, tetapi juga mencakup aspek ekonomi kreatif, pendidikan lingkungan, dan penguatan kapasitas kelembagaan masyarakat. Desa Mata Air diharapkan menjadi contoh inspiratif bagaimana sinergi antara dunia akademik dan komunitas lokal dapat melahirkan model pembangunan desa yang lestari, produktif, dan berdaya saing.
Dengan berakhirnya sesi perdana PKM ini, dimulailah babak baru dalam perjalanan bersama menuju masyarakat desa yang mandiri, sadar lingkungan, dan mampu mengelola sumber daya alamnya secara bijaksana. Kolaborasi antara Jurusan Kehutanan dan Kelompok Wanita Tani Cinta Kasih bukan hanya menjadi proyek semusim, tetapi diharapkan menjelma menjadi gerakan kolektif yang menanam harapan, merawat bumi, dan memanen masa depan yang hijau dan berkelanjutan.
